Cap Go Meh melambangkan hari
kelima belas (hanzi : 十五暝;
pinyin : Shíwǔ míng)
bulan pertama Imlek dan merupakan hari terakhir dari rangkaian masa perayaan Imlek bagi komunitas migran Tionghoa
yang tinggal di luar China. Istilah Cap Go Meh berasal dari dialek Hokkian yang
bila diartikan secara harafiah bermakna “15 hari atau malam setelah Imlek”.
Bila dipenggal per kata, ‘Cap’ mempunyai arti sepuluh, ‘Go’ adalah lima, dan
‘Meh’ berarti malam.
Perayaan Festival Cap Go Meh
di Indonesia sendiri sangat bervariasi. Perayaan biasanya dilakukan oleh umat
kelenteng-kelenteng atau Wihara dengan melakukan kirab atau turun ke jalan raya
sambil menggotong ramai-ramai Kio/Usungan yang di dalamnya diletakkan arca para
Dewa. Bahkan di beberapa kota di tanah air seperti di daerah Jakarta dan di
Manado, terdapat atraksi ‘lokthung‘ atau ‘thangsin‘ dimana ada seseorang yang
menjadi medium perantara yang konon setelah dibacakan mantra tertentu dipercaya
telah dirasuki oleh roh Dewa untuk memberikan berkat bagi umat nya. Mereka
biasanya akan melakukan beberapa atraksi sayat lidah, memotong lengan atau
menusuk bagian badannya dengan sabetan pedang, golok, dan lain sebagainya.
Sementara di Kalimantan, tepatnya di kota Pontianak dan Singkawang, atraksi ini
disebut ‘Tatung‘.
Sikap kita sebagai orang
percaya kepada Kristus?
Marilah kita lebih jeli dan
lebih peka, mana yang merupakan kehendak Tuhan dan mana yang tidak. Mana yang
sesuai dengan Firman Tuhan dan mana yang justru menentang Firman Tuhan.
Kita sudah dibekali dengan
Firman Tuhan dan Roh Kudus-Nya yang mengajari dan menegur kita.
Biarlah kita Cerdik seperti
ular dan tulus seperti merpati. Matius 10:16
“Siapa
bertelinga hendaklah ia mendengar”. Wahyu 13:9
