Minggu, 28 Januari 2018

Mencapai Kesuksesan

Sahabat sekalian, dalam renungan kali ini, kita belajar tentang bagaimana Abraham sangat kaya dan bahkan ia sangat amat kaya, tentu segala sesuatu butuh proses, karna di dunia ini tidak ada yang instan yang hasilnya akan bagus dan tahan lama.

Semua manusia di dunia ini kepingin sukses dalam segala hal, dan kali ini kita mempelajari bagaimana seorang Tokoh Alkitab yang bernama Abraham bisa berhasil.

Di dalam kejadian 12 : 1-4 , di sana mencaritakan bagamana Abraham dipanggil keluar dari rumah kedua orang tuanya.
bukan hal yang mudah bagi Abraham meninggalkan zona nyamannya, bahkan di dalam Alkitab ini menceitakan bagaimana ayah dari Abraham itu kaya raya.

dan apa yang kita pelajari dari Abraham untuk mencapai kesuksesan?


  1. Keluar dari pola ikir yang lama. (ayat 3) Ketika Abraham keluar dari rumah ayah dan saudaranya, ia rela meniggalkan semua kekayaan dan kenyamanannya hanya untuk memenuhi panggilan Tuhan itu. dan ketika ia sudah keluar, artinya Abraham meninggalkan Pola hidup lamanya. Mat 9:17
  2. Taat dan percaya  Abraham sudah tentu taat, bukan hal mudah mengikuti apa maunya Tuhan untuk meninggalkan saudaranya, sementara Tuhan tidak menjelaskan ke mana Ia akan memawa Abraham, tetapi Baraham tetap TAAT dan Percaya.
  3. Berani menghadapi tantangan. Ketika Abraham telah meninggalkan rumah ayahnya. tidak sedikit problema yang dihadapi oleh Abraham. dan dalam hal ini Abraham memilih untuk tetap konsisten, dan berani, di dalam keberanian itu, ada pengorbanan. sudah berapa berani kita percaya pada rencana Tuhan? percaya pada waktunya Tuhan?


Ketiga hal ini yang kita pelajari ini, akan sangat menjadi kunci kesuksesan dalam hal apapun, jika kita mau melakukan dan menghidupkan Firman itu siang dan Malam serta menerapkannya dalam perbuatan kita sehari-hari. Tuhan Yesus memberkati

by Ps. Yohanes Ahon

Sabtu, 20 Februari 2016

Sekilas tentang Cap Go Meh




Cap Go Meh melambangkan hari kelima belas (hanzi : 十五暝; pinyin : Shíwǔ míng) bulan pertama Imlek dan merupakan hari terakhir dari rangkaian masa perayaan Imlek bagi komunitas migran Tionghoa yang tinggal di luar China. Istilah Cap Go Meh berasal dari dialek Hokkian yang bila diartikan secara harafiah bermakna “15 hari atau malam setelah Imlek”. Bila dipenggal per kata, ‘Cap’ mempunyai arti sepuluh, ‘Go’ adalah lima, dan ‘Meh’ berarti malam.


Perayaan Festival Cap Go Meh di Indonesia sendiri sangat bervariasi. Perayaan biasanya dilakukan oleh umat kelenteng-kelenteng atau Wihara dengan melakukan kirab atau turun ke jalan raya sambil menggotong ramai-ramai Kio/Usungan yang di dalamnya diletakkan arca para Dewa. Bahkan di beberapa kota di tanah air seperti di daerah Jakarta dan di Manado, terdapat atraksi ‘lokthung‘ atau ‘thangsin‘ dimana ada seseorang yang menjadi medium perantara yang konon setelah dibacakan mantra tertentu dipercaya telah dirasuki oleh roh Dewa untuk memberikan berkat bagi umat nya. Mereka biasanya akan melakukan beberapa atraksi sayat lidah, memotong lengan atau menusuk bagian badannya dengan sabetan pedang, golok, dan lain sebagainya. Sementara di Kalimantan, tepatnya di kota Pontianak dan Singkawang, atraksi ini disebut ‘Tatung‘.

Sikap kita sebagai orang percaya kepada Kristus?

Marilah kita lebih jeli dan lebih peka, mana yang merupakan kehendak Tuhan dan mana yang tidak. Mana yang sesuai dengan Firman Tuhan dan mana yang justru menentang Firman Tuhan.

Kita sudah dibekali dengan Firman Tuhan dan Roh Kudus-Nya yang mengajari dan menegur kita.

Biarlah kita Cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati. Matius 10:16

Siapa bertelinga hendaklah ia mendengar”. Wahyu 13:9

Kamis, 14 Januari 2016

BODOH DI MATA TUHAN

BODOH DI MATA TUHAN           

Ayat Bacaan: 2 tawarikh 16: 1-14




Kisah Raja Asa sangat menarik untuk dicermati. Dalam dua pasal sebelumnya kita membaca riwayat hidupnya yang benar di hadapan Tuhan. Sebab itu, ia dikaruniai kemenangan atas musuh serta keamanan di seluruh penjuru negeri yang dipimpinnya. Namun, pasal yang kita baca hari ini memperlihatkan “kegagalan” Asa. Mengapa bisa gagal? Bukankah sebelumnya dicatat bahwa hati Asa tulus ikhlas di hadapan Tuhan?

Kegagalan Asa tampaknya sepele. Bahkan, di mata manusia, kelihatannya ia pintar. Ia tak mau repot menghadapi musuh, jadi ia bernegosiasi dengan raja Aram untuk melakukannya. Musuhnya mundur dan Asa beroleh banyak bahan bangunan untuk memperkuat kota-kota pertahanannya. Taktik yang cerdik bukan? Namun, Tuhan menyebutnya “bodoh” (ayat 9). Dulu, Asa mengandalkan Tuhan saat menghadapi musuh yang jauh lebih besar (ayat 8). Kini, ia menggunakan perbendaharaan rumah Tuhan untuk membeli pertolongan manusia (ayat 2). Ketika ditegur, Asa sakit hati. Mungkin ia merasa telah giat bagi Tuhan di masa lalu. Masakan sekarang Tuhan tega menghukumnya? Bukannya berbalik pada Tuhan, ia mengulangi kebodohan yang sama saat sakit melanda. Ia tidak mencari pertolongan Tuhan, tetapi manusia (ayat 12). Menyedihkan.

Kehidupan Asa cermin bagi kita semua.Mengandalkan Tuhan jangan sampai hanya menjadi kisah masa lalu yang indah. Mariberharap kepada-Nya selalu, bahkan dalam hal-hal paling sepele sekalipun. JikaTuhan sedang menegur kita karena hal-hal “bodoh” yang kita lakukan, biarlahkita tidak menjadi pahit dan menjauhi pertolongan-Nya. Datanglah kepada-Nyadengan hati yang hancur, dan mohonlah pembentukan-Nya agar kita dapat kembalihidup berkenan kepada-Nya

TOLOK UKUR KARAKTER





Ayat Bacaan: 1 Timotius 6; 1-10

Richard Halverson, seorang penulis dan pendeta senat AS, pernah menulis: Yesus Kristus berbicara tentang uang lebih dari hal-hal lain, karena ketika tiba pada sifat alami manusia, uang memegang peran terpenting. Uang merupakan indeks yang tepat untuk menunjukkan karakter sejati seseorang. Di seluruh halaman Kitab Suci, ada korelasi yang sangat dekat antara perkembangan karakter manusia dengan cara ia menangani uangnya.
Banyak tokoh di Alkitab yang dikecam, dihukum, atau dipuji oleh Allah karena sikap mereka terhadap uang. Yudas Iskariot mengkhianati Tuhan Yesus demi tiga puluh uang perak. Ananias dan Safira rebah dan mati seketika setelah berdusta perihal uang yang mereka serahkan. Mereka adalah contoh orang-orang yang jatuh dalam pencobaan berkenaan dengan uang. Uang membuat mereka terjerat dalam berbagai nafsu yang hampa dan mencelakakan, hingga akhirnya menyimpang dari iman dan menyiksa diri dengan berbagai duka (ayat 10). Namun, ada kisah janda miskin yang dipuji Tuhan Yesus karena memberi dari kekurangannya. Atau, jemaat Makedonia yang disebut Paulus sangat miskin, tetapi kaya dalam kemurahan (lihat 1 Korintus 8). Mereka ialah orang-orang yang pertama-tama menyerahkan hati kepada Allah, lalu uang mereka.

Uang hanya salah satu sarana yang kita perlukan dalam menjalani kehidupan di dunia ini. Uang adalah berkat, bukti pemeliharaan Allah atas kita. Uang harus menjadi hamba kita. Jika kita cinta uang, uang akan menjadi tuan kita. Bagaimana Anda menangani uang? Mana yang lebih Anda cintai: Allah dan firman-Nya, atau ... uang?

PETAKA KABAR ANGIN

Senin, 18 Januari 2016
Ayat Bacaan: Amsal 6:16-19

Setiap tahun pada bulan November, rakyat dari seluruh pelosok Kamboja membanjiri ibu kota Phnom Penh untuk menghadiri Festival Air. Pada 2010, festival akbar ini berubah menjadi petaka: 450 orang tewas di Jembatan Berlian, pusat berlangsungnya festival. Para pengunjung panik karena tersebar kabar angin bahwa jembatan itu tidak stabil. Alhasil, banyak korban tewas terinjak sesamanya dan terjun ke Sungai Tonle Sap.
Kabar Angin dapat didengungkan secara iseng, namun dapat pula secara sengaja dengan disertai niat jahat. Efeknya tak jarang lebih kejam dari tikaman pedang tajam. Kabar angin, begitu dilontarkan, akan menyebar secara tak terkendali. Baik pencetus maupun penyebarnya tidak akan mampu mengontrol dampaknya.
Apakah Anda memperhatikan bahwa dua dari enam hal yang dibenci Tuhan dalam perikop hari ini berkaitan dengan kabar angin? Yang satu, lidah dusta (ayt. 17), mengacu pada pencetusnya. Yang kedua, saksi dusta (ayt. 19), menunjuk pada penyebarnya. Mengapa Tuhan menyampaikan peringatan yang begitu keras? Si pencetus dan si penyebar kabar angin sama-sama pengecut, tidak memiliki sikap ksatria. Kejahatannya bukan hanya membunuh karakter seseorang, namun dapat pula memakan ribuan korban. Bahkan ada perang antarbangsa yang pecah gara-gara kabar angin.

Kita perlu menjaga hati dan lidah dengan penuh kewaspadaan agar tidak mencetuskan atau menyebarkan kabar angin. Bagaimana menjaganya? Dengan mempersilakan firman-Nya, firman kebenaran, menguasai hati kita (lihat Mazmur 119:9-11)

Sumber : Renungan Harian Yayasan Gloria

Mencapai Kesuksesan

Sahabat sekalian, dalam renungan kali ini, kita belajar tentang bagaimana Abraham sangat kaya dan bahkan ia sangat amat kaya, tentu segala...