|
Senin, 18 Januari 2016
|
Ayat Bacaan: Amsal 6:16-19
Setiap tahun pada bulan November, rakyat dari
seluruh pelosok Kamboja membanjiri ibu kota Phnom Penh untuk menghadiri Festival
Air. Pada 2010, festival akbar ini berubah menjadi petaka: 450 orang tewas di
Jembatan Berlian, pusat berlangsungnya festival. Para pengunjung panik karena
tersebar kabar angin bahwa jembatan itu tidak stabil. Alhasil, banyak korban
tewas terinjak sesamanya dan terjun ke Sungai Tonle Sap.
Kabar Angin dapat didengungkan secara iseng,
namun dapat pula secara sengaja dengan disertai niat jahat. Efeknya tak jarang
lebih kejam dari tikaman pedang tajam. Kabar angin, begitu dilontarkan, akan
menyebar secara tak terkendali. Baik pencetus maupun penyebarnya tidak akan
mampu mengontrol dampaknya.
Apakah Anda memperhatikan bahwa dua dari enam
hal yang dibenci Tuhan dalam perikop hari ini berkaitan dengan kabar angin?
Yang satu, lidah dusta (ayt. 17), mengacu pada pencetusnya. Yang kedua, saksi
dusta (ayt. 19), menunjuk pada penyebarnya. Mengapa Tuhan menyampaikan
peringatan yang begitu keras? Si pencetus dan si penyebar kabar angin sama-sama
pengecut, tidak memiliki sikap ksatria. Kejahatannya bukan hanya membunuh
karakter seseorang, namun dapat pula memakan ribuan korban. Bahkan ada perang
antarbangsa yang pecah gara-gara kabar angin.
Kita perlu menjaga hati dan lidah dengan penuh
kewaspadaan agar tidak mencetuskan atau menyebarkan kabar angin. Bagaimana
menjaganya? Dengan mempersilakan firman-Nya, firman kebenaran, menguasai hati
kita (lihat Mazmur 119:9-11)
Sumber
: Renungan Harian Yayasan Gloria

Tidak ada komentar:
Posting Komentar